MENGINTIP KEBERTONTONAN ANAK YANG MENGOYAK PERCAKAPAN TENTANG HASRAT DALAM POSSESSION (KERASUKAN)
MENGINTIP KEBERTONTONAN ANAK YANG MENGOYAK
PERCAKAPAN TENTANG HASRAT DALAM
POSSESSION (KERASUKAN)
Karya MOCH. TAUFIK HIDAYATULLAH
Sebuah
petunjuk menyelamatkan perempuan yang kerasukan setan. Langkah pertama, periksa
terlebih dahulu alat kelaminnya. Setidaknya kalimat itu yang dilontarkan Pak
Tony (Arswendy Bening Swara) saat menjalankan tindakan modus mengeksorsis Ratna
(Carissa Perusset) yang kerasukan. Belum sempat kain rok itu disingkapnya,
Ratna melenting seraya menatap tajam mewakili keberangannya, “Tidak ada setan
di dalam situ! Setan adalah di dalam kalian semua!” Lalu tubuh Ratna melayang
bersama teriakan merutuk pria-pria di dekatnya, termasuk kepada suaminya
bernama Faris (Darius Sinathrya). Secara bolak-balik, adegan kerasukan itu
bergantian dengan shot-shot seorang
anak laki-laki bernama Budi (Sultan Hamonangan) yang ketakutan dari kamar
sebelah. Sebuah persandingan visual yang menggelisahkan saat anak dipaksa
“menonton” dari pinggir dunia percakapan.
Budi
memang bukan tokoh sentral sebagaimana ibu dan bapaknya yang bernama Ratna dan
Faris. Kendati demikian, lewat “mata” dan “telinga”-nya tercandra persoalan
yang bisa diintip dalam narasi adaptasi dari film klasik Prancis karya Andrzej
Żuławski tahun 1981 ini. Film ini berkisah tentang pasutri Ratna dan Faris yang
rumah tangganya dilanda konflik. Sepulang bertugas sebagai Tentara Angkatan
Laut, Faris mendapati perubahan drastis pada Ratna yang menolak bermesraan
hingga enggan “melayani” dirinya di ranjang. Ratna bahkan mengajukan permohonan
perceraian. Budi (Sultan Hamonangan M. P.) membeberkan perilaku janggal Ratna
serta ketakutannya pada pocong yang menghantui unit tempat tinggal mereka.
Kehadiran pocong di tengah rumah tangga mereka menjadi bagian integral dari
kebertontonan Budi menghayati pengalaman seksual ibunya yang ganjil.
Keberadaan
Budi memampangkan fakta bahwa dia adalah anak yang terjepit di dunia orang
dewasa yang bising. Di sini, “kita” sebagai penonton merasa urgensif mengawani
keberadaannya. Secara reflektif, situasi Budi, mengajak kita memikirkan tentang
kebertontonan bertumpuk. Pertama, soal Budi yang “menonton” pengalaman
percakapan hingga kerasukan erotis ibunya. Kedua, soal “kita” yang menonton
kehidupan Budi.
Dalam
The Imaginary Signifier, Christian Metz membahas bagaimana situasi
sinema memiliki struktur voyeuristik.
Terkondisikan situasi yang sangat khas yakni aktor hadir ketika film direkam, tetapi tidak hadir ketika penonton
menonton. Sebaliknya penonton
hadir ketika film diproyeksikan, tetapi aktor sudah tidak hadir. Metz
menyebut situasi ini sebagai hubungan voyeuristik
yang khas sinema. Ia bahkan menghubungkannya dengan ruang bioskop yang gelap dan layar sebagai semacam efek lubang kunci (keyhole effect). Dari balik lubang kunci dunia Budi, “kita”
mengawaninya, setidaknya lewat empati terhadap kebingungannya membaca
lalu-lalang perdebatan hasrat dan penguasaan. Anak sekecil itu diboyong ke
dalam dunia maha kelam yang menohokkan erotisme ibunya yang berhubungan intim
dengan pocong.
Film Possession dibicarakan karena merekam
sinyal urgensif untuk memperhatikan keselarasan identitas anak bertumbuh dalam
medan “kebertontonan” yang katanya harus protektif. Sedangkan tidak pernah ada
kata final dari lingkar pemaknaan bagi kata “protektif” itu. Kenyataannya, yang
lebih sering terjadi adalah politik ketakutan bernuansa seksual (sexual politics of fear). Argumen
provokatifnya adalah bahwa ketakutan
orang dewasa terhadap seksualitas anak dan remaja—ketika berubah menjadi
sensor, pembungkaman, pendidikan seks berbasis abstinensi, dan kebijakan yang
semata-mata berorientasi perlindungan—dapat semestinya disadari akan menghasilkan
kerugian tersendiri.
BUDI YANG DITEPIKAN DAN MENCARI SUAKA
Sejak
film dibuka, Budi sudah langsung ditepikan. Budi tidak bisa berbuat apa-apa,
dia murni menonton performativitas pengalaman seksual orang dewasa dengan
memungut kode-kode pelarangan atau penghindaran secara acak. Yang ditangkap
Budi adalah aturan bahwa dia belum boleh mengenali tetek-bengek dunia
seksualitas. Berkali-kali ia memilih menutup telinga dan memejamkan mata
rapat-rapat. Status kebertontonan ini memperlihatkan dikorupsinya otoritas Budi
sebagai anak di dalam interaksi kehidupan orang dewasa.
Di
saat ia “menonton” Ratna bersolek dan mengenakan pakaian, Ratna spontan menutup
pintu kamar. Sewaktu ia memergoki Faris dan Mita bercumbu, ia juga langsung
disingkirkan. Sewaktu ia pulang dari sekolah menjumpai rumah penuh lilin
menyala untuk ritual, ia langsung disuruh masuk ke kamar mengganti pakaian. Ketika
ia membuka pintu kamar mandi dan mendapati Ratna terbaring di bak mandi dalam
pose seks dengan bantal guling—jelmaan pocong, Faris langsung menyuruhnya
buru-buru keluar kamar mandi. Budi benar-benar dikondisikan sebagai “penonton”.
Yang Budi
dapati adalah Ratna dan Faris yang buru-buru menyembunyikan pertunjukan mereka.
Sekali
Budi mencoba mendisrupsi “tontonan”-nya yang bertimpa dengan persoalan rumah
tangga orang tuanya, yang ia dapatkan hanya penggusuran lagi. “Ibu kan sudah
sering bilang, kalau bicara jangan seperti orang dewasa.” Budi selalu ditepikan
tanpa mendapat proporsi mempertanggungjawabkan eksistensi dan kemampuan membaca
lingkungannya secara jernih. Ratna dan Faris terus-menerus mengatur batas pengetahuan Budi. Seolah-olah
mengatakan ada dunia tertentu yang
belum boleh kamu masuki. Masalahnya terbesarnya adalah Budi sudah terlanjur melihatnya. Budi
menjadi penonton dari intimasi orang dewasa, tetapi tanpa benar-benar diberi
posisi sebagai orang yang boleh mengetahui atau dididik untuk rasional sesuai
kapasitas pertumbuhan nalarnya. Budi berada
di posisi yang paradoksal, di mana ia tidak dilibatkan, tetapi tidak
bisa dikeluarkan. Budi tidak
diberi penjelasan, tetapi terus
melihat akibatnya.
Bahasa sinematik mempertontonkan dunia orang dewasa
yang egois itu. Hasrat seksualitas meluber ke domain yang tidak ramah anak,
tapi tidak dapat ditanggulangi dengan arif. Kala Faris dan Mita—asisten istrinya
Faris—ketangkap basah sedang bercumbu, kamera mengemasnya dalam long shot beserta tembok restriktif yang
memisah kamar tidur dan kamar mandi. Di sana Budi dan Faris-Mita disandingkan
dan ditubrukkan. Sebagaimana telah disinggung di muka, para orang dewasa
buru-buru mengakhiri pertunjukan dan meminta Budi hengkang dari pentas mereka.
Bukan berarti narasi Possession abstain dalam menyentuh persoalan pengalaman interaktif
orang tua dan anak yang tidak “menepikan” dalam menyoal terkait pengalaman
seksual. Meski dikemas tidak eksplisit dan purposif, terdapat satu adegan di
mana Faris memandikan Budi. Dalam kesempatan ini Faris mengorek kesaksian Budi
tentang hasil amatannya terhadap perilaku keseharian ibunya. Ironinya, saat relasi
anak dan orang tua menjadi problematik, adegan “intimasi” orang tua-anak justru
diwakili oleh Faris. Catherine Gallais dalam Fatherhood and Masculinities: Intersections of Care, Bodies and Race menekankan
mandi bukan sebagai simbol abstrak, tetapi sebagai praktik keayahan (embodied fatherhood) yang mampu
memperkuat penanaman nilai-nilai ekslusif. Konteks Possession memperkuat terputiknya makna pelegasian nilai patriarkal
ke dalam ruang nalar Budi yang kebingungan membaca situasi oleh Faris. Adegan
ini menjadi sebentuk guncangan saat posisi Budi yang selalu “ditepikan”, malah tidak
diimbangi dengan kehadiran Ratna yang memadai. Pengalaman membicarakan hasrat
dinavigasi lewat keterwakilan yang mengandung risiko.
Penulis melayangkan sikap keberatan
merespon narasi dan bahasa filmis Possession
dalam memosisikan Budi. Film ini mengamini paradigma bahaya sebagai paradigma
dominan untuk memahami seksualitas anak. Artinya, konsep “kepolosan seksual” (sexual
innocence) diterima dan dilanggengkan. Faris dan Ratna hanya sibuk
beradu mulut tentang siapa yang berhak saling menguasai tanpa pernah sekalipun
memberi pengertian bagi Budi atas deretan “tontonan” erotis yang didapatinya.
Motif penepian Budi di tengah Faris dan Ratna memang kabur, antara khawatir
Budi salah memahami atau sebentuk ignoransi orang dewasa yang enggan mengisi
kapasitas pedagogis tentang pendidikan seksualitas. Menindaklanjuti ini, penulis
condong menerima usulan Bhana dan Lucke (2025) dalam Childhood Sexualities: On Pleasure and Meaning from the Margins
yang menggeser kondisi pemberian pemahaman anak atas serbaneka seksualitas
dengan pandangan “from danger to pleasure.” Kajian seksualitas anak selama ini berpilin
pada terkaan-terkaan bahaya seksualitas yang bisa menimpa anak. Adegan demi
adegan selalu menggambarkan Budi yang bersembunyi ketakutan, bahkan berusaha
untuk mensterilkan pendengarannya dari desahan Ratna maupun suara tapak kaki
pocong binal sebagai rekan bercinta ibunya.
Bhana dan Lucke melampaui itu dengan
mencoba mendalami pengalaman anak memberi makna dan menegosiasikan kesenangan. Mengakui kesenangan (pleasure) bukan berarti menyangkal kerentanan anak. Bhana
dan Lucke tidak mengatakan bahwa
kekerasan seksual, eksploitasi, pelecehan, dan risiko terhadap anak tidak
penting. Sebaliknya, mereka menolak logika di mana dikarenakan anak rentan
terhadap kekerasan seksual, maka seluruh seksualitas anak harus dipahami
sebagai bahaya. Anak selayaknya diposisikan dipandang sebagai agen sosial,
sehingga bukan semata-mata objek pasif yang serba diproteksi. Mendalami
kesenangan seksualitas anak dipahami lewat bagaimana mendalami pemahamannya
tentang ketertarikan, cinta, tubuh, hubungan romantis, dan sejenisnya. Mereka
ingin memisahkan keinginan anak dari kerentanan yang diproduksi oleh relasi
sosial dan struktural. Celakanya, interpretasi “proteksi” lebih sering meminggirkan
anak dari percakapan tentang seksualitas. Alhasil, anak berkelana dalam
pencariannya sendiri.
Ketika anak mencari jawaban sendiri,
maka itu yang tampak pada keputusan Budi di akhir film.
BUDI
YANG “MENYERAH” MENCARI SUAKA: MENABRAK BATAS KEBERTONTONAN DAN OTONOMI
PENDISIPLINAN DIRI
Budi
berulang kali terpapar pada
situasi orang dewasa sebagai penonton
yang tidak secara sukarela berada dalam posisi menonton. Ia menjadi perspektif
yang belum sepenuhnya dikodekan oleh kepentingan seksual orang dewasa. Ia melihat
semuanya tanpa memiliki perangkat kuasa seksual yang sama dengan orang dewasa.
Koheren dengan hal tersebut, perspektif Budi bisa menjadi counterpoint
terhadap pertarungan hasrat orang dewasa. Atau lebih tepatnya, semacam
antitesis dari keadaan dominan: apakah orang dewasa hanya membicarakan soal
seks dan gairahnya?
Film memperlihatkan bagaimana anak dapat menjadi
saksi atas pengalaman seksualitas orang dewasa bukan karena ia sengaja mencari
pengetahuan seksual, tetapi karena batas privat orang dewasa tidak pernah
benar-benar kedap. Deretan parade tontonan Budi ini menguarkan refleksi sosial
kritis:siapa yang bertanggung jawab ketika dunia dewasa bocor ke dunia anak
tanpa ditangani dengan tanggung jawab? Bila memakai usulan Bhana &
Lucke, Budi bisa saja dikawani untuk diberikan pengertian sembari mengecek
pemahamannya dalam spirit “kesenangan”.
Budi
tidak punya teman berbagi kebingungan, hingga akhirnya ia menerabas batas untuk
mengadu ke “kita” sebagai penontonnya. Di sini teknikalitas filmis dan naratif
Budi mengoyak batas kebertontonan dapat terjelaskan melalui Tom Brown dalam Breaking the Fourth Wall: Direct Address in
the Cinema. What happens when fictional characters acknowledge our “presence”
as film spectators? Budi berbicara ke “kita” dalam kesadarannya menatap
kamera.
Bahkan
di saat ia mengadu kepada kita, Budi tidak komplain maupun menggerutu. Ia hanya
memvalidasi postulat orang dewasa yang sedang berbicara hasrat seksualitas. “Budi
belum cukup umur untuk menyaksikan ini!” ungkapnya. Sebentuk pernyataan
pendisiplinan diri dari apa yang dicernanya—setidaknya dari ragam penepian yang
dirutinisasi orang tuanya itu. Di akhir film, satu-satunya sosok berdaya hanya
Budi. Dia yang satu-satunya orang yang berani mengoyak batas antara penonton
dan kebertontonannya, demi berinteraksi dengan “kita”. Di saat semua mati dan
Ratna dengan arogan berlagak di atas pentas. Budi yang sadar akan “kita” yang
mengintip ke dunianya, langsung berbicara ke arah kita.
Tapi di masyarakat Indonesia, anak
selalu terlambat tahu tentang dunia yang ditabukan itu karena maklum. Budi
dalam Possession beruntung menyadari
kita membersamai dunianya. Apa kabar dengan Budi lain dengan kebertontonannya
yang anomali, tapi tidak bisa diintip dan dibersamai oleh kita?
***









Komentar
Posting Komentar